Friday, January 14, 2011

RIM, Nasionalisme, dan Internet

Ada yang tidak tahu logo tersebut?
Kalau anda tidak tahu berarti anda tidak membaca logo tersebut secara seksama. Ya itu adalah logo BlackBerry. Sebuah smart phone masa kini yang sedang booming khususnya di Indonesia. Bayangkan saja, di Indonesia sendiri sudah terdapat 3 juta pengguna BlackBerry dan 2 juta diantaranya adalah pengguna yang  membeli di counter resmi sedangkan 1 juta di antaranya adalah pengguna yang membeli di black market. Lalu apa kemampuan istimewa smart phone yang satu ini sehingga membuatnya menjadi dicari oleh orang-orang? Jawabannya hanya satu yakni kemampuan RIM. Apa keistimewaan RIM tersebut? Kemampuannya adalah untuk mengkompresi email sehingga untuk email yang sama yang diperoleh smart phone lain, BlackBerry mempunyai ukuran yang lebih kecil, koneksi yang lebih cepat, dan kualitas yang sama seperti email di smart phone yang lain. Ini sangat menguntungkan dan efisien bagi para usernya. Lalu, apa yang menarik dari cerita BlackBerry diatas? Ternyata keberadaannya di Indonesia sedang terancam oleh pencekalan dari Menkominfo terkait pornografi. Mari kita bahas cerita BlackBerry ini.

Tifatul sembiring, beliau adalah seorang menteri yang mengurusi bagian komunikasi dan informasi. Sudah sepantasnya beliau mengurusi keberadaan BlackBerry yang menjadi tren saat ini. Permasalahan yang ada saat ini adalah pemblokiran BlackBerry dikarenakan RIM tidak mau membangun server di Indonesia. Beliau mengakui bahwa dengan banyaknya jumlah pengguna BlackBerry di Indonesia, diharapkan RIM membangun server di Indonesia demi kenyamanan para penggunanya. Menurut saya ini sangat masuk akal, mengapa demikian? karena dengan banyaknya pengguna di Indonesia diharapkan RIM membangun server atau servis center untuk memudahkan pelayanan user di Indonesia sehingga tidak perlu jauh-jauh ke Singapore apalagi sampai ke Kanada.

Lalu, apa yang menjadi kontroversi disini?
Sebagai seorang menteri beliau tidak melakukan sebuah pernyataan resmi yang bisa dipertanggungjawabkan di depan media. Beliau hanya berbicara melalui media jejaring sosial twitter. Apakah mungkin seorang menteri yang memiliki keputusan penting hanya bisa berbicara di sebuah jejaring sosial yang notabene panjang tulisannya hanya 140 karakter. Tuntutan beliau pun semuanya dituliskan di twitternya yakni di @tifsemibiring berdasarkan poin-poin. Sungguh mengenaskan, sebagai seorang menteri hanya bisa bersanding di dunia maya melalui tweet-tweetnya.
Kenapa sampai saat ini masalah BlackBerry tidak kunjung selesai?
BlackBerry yang sudah mengetahui tuntutan dari Menkominfo akhirnya melakukan sebuah solusi yakni dengan cara membangun servis center di Indonesia. Namun mereka menolak dengan tegas untuk membangun server di Indonesia. Mengapa mereka berlaku demikian? karena walaupun mereka membangun server di Indonesia apabila mereka tidak memberi ijin akses ke servernya maka hasilnya akan sama saja. Tenyata hal ini tetap membuat pak Tifatul puas. Beliau merasa tuntutannya tidak terpenuhi dan merasa bahwa dengan adanya server RIM yang ada di luar maka para penggunanya dapat mengakses fitur pornografi. Pertanyaannya adalah apakah seseorang menggunakan BlackBerry untuk mengakses Pornografi? Maukah anda menggunakan sebuah smart phone yang besar layarnya hanya sebesar telapak tangan anda untuk mengakses hal seperti itu? Anda bisa berpikir lebih bijak mengenai hal tersbeut.

Lalu, kenapa masalah ini melibatkan nasionalisme?
Saya pun juga berpikir bahwa  dengan pengguna BB yang cukup banyak di Indonesia diharapkan RIM ikut memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi penggunanya. Ingat ini Indonesia, maka mereka harus ikut aturan Indonesia. Sayangnya nasionalisme yang dibawa oleh pak Tifatul dalam lingkup yang sempit yakni membawa-bawa rasa nasionalisme yang salah. Pak Tifatul sendiri tidak menyadari bahwa aplikasi BB di Indonesia merupakan yang paling banyak di dunia seperti domikado atau garuda di dadaku. Dengan memblokir keberadaan BlackBerry maka akan membuat para orang yang kreatif seperti pembuat aplikasi garuda di dadaku menjadi hilang. Apakah ini yang disebut nasionalisme? Bagaimana dengan para investor yang lain yang juga menggunakan BB sebagai salah satu alat komunikasinya? Jangan sampai mereka lari karena bangsa kita terlalu sering meblokir segala sesuatu termasuk hal yang bermanfaat sekaligus.

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh pak Tifatul sebagai Menkominfo?
Sebagai seorang Menteri Komunikasi sebaiknya beliau memperluas jaringan internet ke pelosok-pelosok sehingga seluruh masyarakat Indonesia mengerti menggunakan internet. Sayangnya Menteri yang satu ini, terlalu memikirkan masalah pajak RIM yang notabene bukan urusan beliau karena pajak itu urusan orang pajak, lalu urusan pornografi yang juga bukan merupakan urusannya karena beliau bukan menteri akhlak atau moral atau apalah kita harus menyebutnya. Bayangkan saja pemblokiran yang beliau lakukan di bulan puasa tahun 2010 lalu. Bukannya, memblokir situs porno malah memblokir situs-situs portal berita yang bermanfaat. Mungkin lebih tepatnya kita menyebutnya sebagai Menteri misKomunikasi dan Informasi.

Jika ingin mengenali nasionalisme dalam dunia komunikasi lebih baik jika mengenal sosok yang satu ini.


Beliau adalah Julian Sutanto. Wanita asal Manado, Sulawesi Utara ini adalah satu-satunya profesor Indonesia, yang ketika berusia 28 tahun sudah meraih posisi sebagai Asisten Pofesor di salah satu universitas ETH di Zurich, Swiss. “Padahal saya dulu tidak diterima di universitas di dalam negeri. Lalu atas saran keluarga, saya kemudian melanjutkan kuliah di salah satu universitas Singapura,” kata Yuliana yang ahli di bidang manajemen informatika mengenang. Sudah banyak penghargaan yang diraih Juliana ini. Selain itu juga beberapa penelitian juga sudah ia patenkan. Lalu, apa yang dilakukan olehnya sehingga dia dapat dibilang seorang nasionalis? Tekadnya untuk menyalurkan internet ke desa-desa sehingga tidak terjadi kesenjangan di Indonesia. Diharapkan dengan adanya jaringan komunikasi internet yang baik di daerah pedesaan maka akan mengurangi terjadi urbanisasi di Indonesia.

Dua sosok yang berbeda, yakni Pak Tifatul dan Ibu Julian. Yang satu perempuan dan yang satu laki-laki. Dua-duanya orang Indonesia, namun Ibu Julian berusaha untuk mengajarkan cara menggunakan internet yang baik bagi para warga di Indonesia sedangkan pak Tifatul sibuk mengurusi hal yang bukan tugasnya seperti blokir memblokir dan mengurus pajak. Capek deh.

Kata-kata Bijak : Orang Cerdas bekerja dengan hati, sedikit bicara namun banyak bekerja. Orang Bodoh berkerja dengan emosi, banyak bicara namun sedikit bekerja. Anda tahu kan kira-kira siapa yang cerdas dan siapa yang bodoh??

Salam Damai semuanya hehe..

0 comments: