Tuesday, August 28, 2012

Foke dan Semangat Kolese

Selamat pagi menjelang siang para pembaca, hari ini gw akan menulis mengenai salah seorang calon gubernur DKI Jakarta yakni Fauzi Bowo. Kenapa gw pengen menulis tentang Fauzi Bowo atau biasa akrab disapa dengan nama panggilan Foke? karena beliau adalah alumni SMA Kolese Kanisius yang masih 1 yayasan dengan SMA gw yakni SMA Kolese Gonzaga. Nah jadi disini gw akan mencoba menganalisa berdasarkan semangat kolese yakni 3C. 

Nah, jadi ceritanya pada tahun 2007 yang lalu yaitu pas gw SMA terjadilah pilkada gubernur DKI (ya iyalah 5 tahun yang lalu).  Waktu itu yang gw inget kalau gak salah pasangan Fauzi Bowo dan lawan mainnya Adang Daradjatun (gw gak inget siapa wakilnya waktu itu). Dulu Fauzi Bowo menggunakan semboyan utamanya (halah) yakni "Serahkan pada Ahlinya". Karena gw waktu itu masih berstatus anak Gonz maka secara otomatis gw langsung mendukung Foke karena dia alumni Kanisius. Dan sesuai dugaan Fauzi Bowo menang waktu itu, kalau gak salah menang telak dari saingannya.

Sekarang 5 tahun uda berlalu dari saat itu, bagaimana dengan keadaan Jakarta yang sudah berada di tangan ahlinya ? Kacau, Macet dimana-mana, Kesenjangan Sosial yang begitu tinggi dimana ada mall mewah tapi ada rumah kumuh dibaliknya. Lalu gw berpikir, apa aja yang dilakuin sama Foke selama 5 tahun ini? Bukankah sebagai anak kolese yang telah diajarkan untuk memimpin bisa membawa perubahan yang belum pernah ada sebelumnya, tapi malah yang terjadi seperti ini.

Foke bukanlah orang yang bodoh, dia adalah orang yang pintar karena bisa sekolah di Jerman (gw mengakui kalau hal yang ini). Cuma kalo berdasarkan semangat kolese, Foke yang sekarang hanya memiliki Competence atau kepintaran semata dan sudah tidak memiliki Compassion atau Conscience. Kenapa gw bilang begitu? karena banyak sekali orang-orang di Jakarta yang hidupnya kesulitan dan dibiarkan hidup merana begitu saja. Lalu dimana hati nurani Foke melihat semua itu? Apakah dia tidak peduli dengan nasib orang-orang tersebut?

Selain itu, kolese juga mengajarkan keberagaman dan kesetaraan. Tapi lihat apa yang Foke lakukan sekarang? Dia menggunakan isu SARA untuk menjatuhkan pasangan Jokowi-Basuki. Memangnya waktu Foke sekolah di Kanisius, teman-temannya itu orang Islam dan bukan China? (maaf agak rasis, tapi memang kenyataan anak Kanisius rata-rata orang China dan Katolik). Entah apa yang dipikirkan oleh Foke sampai bisa memberikan isu seperti itu.

Yang lebih mengherankan lagi, (ini cuma asumsi aja ya) katanya orang Jakarta harus memilih pemimpin yang seiman yakni harus orang Islam, begitu kata Rhoma Irama dan Marzuki Alie. Mereka (mungkin) telah dibayar untuk menjadi antek2 Foke. Cuma ya balik lagi, emangnya Foke waktu SMA itu pemimpinnya orang muslim? Sudah pasti bukan, emang sejak kapan Kanisius dipimpin sama Ustadz atau Kyai? Lalu bagaimana mungkin anda bisa memilih Foke yang sejak SMA saja sudah mau dipimpin oleh orang yang tidak seiman? Berarti semua kata-kata itu berbalik lagi untuk menyerang Foke, ya kan?

Tapi sekarang balik lagi gw bertanya dalam diri gw, apakah teman-temannya di masa lalu gak pada malu ya punya temen kayak Foke? Gak bawa perubahan positif malah ngasi perubahan negatif. Nah trus sebagai teman Foke, kenapa gak ada yang bilangin kalau Foke sekarang berada di jalan yang salah ya? Gw malah berpikir jangan-jangan ada anak Kanisius di balik Foke yang memberi sumbangan dana. Gw gak pernah menutup kemungkinan bahwa ada orang yang senang kalau Foke tetap menjadi gubernur karena baik untuk bisnis mereka. Lihat saja mal-mal tersebut, mungkin saja disitu ada yang milik alumni Kanisius. Kalau Foke kalah, bisa susah kalau investasi kayak begitu kan? 

Tulisan gw ini bukan bermaksud menjelekkan Kanisius ya, gw yakin masih banyak yang berjuang dengan semangat 3C tapi ya pasti ada juga yang udah berubah. Mereka yang berubah yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan segelintir kelompoknya dan menindas yang lemah. Ya begitu aja seh sedikit tulisan dari gw hehe. Bye bye

0 comments: