Tuesday, October 9, 2012

Genderless bagian 1

Halo, hari ini gw pengen ngebahas mengenai masalah gender yang ada di kehidupan sehari-hari. Masalah gender pengen gw angkat ketika salah satu temen gw merasa tidak setuju ketika salah satu organisasi di tempat dia bekerja lebih banyak wanitanya ketimbang pria. Hal inilah yang pengen gw telaah lebih jauh, dan akhirnya gw meminjam sebuah buku temen gw yang berjudul Politik dan Gender. Sebelum gw bahas mengenai gender lebih jauh, sebelumnya gw ingin sedikit memberi ilustrasi mengenai gender. Semua tulisan ini saya tulis tanpa mengubah rangkaian kata yang ada di bukunya. Nama ilustrasinya adalah Arahmaiani.
 
Aku berasal dari kelas menengah kota, terdidik, dan keluarga muslim taat. Keluargaku memahami agama secara kritis. 
Ketika kecil aku bercita-cita menjadi nabi.
Pemahaman kritis itu bersebrangan dengan konsep agama puritan yang selalu menempatkan perempuan dalam subordinat.
Waktu kecil, aku suka sekali berpakaian laki-laki. Teman mainku sering meledekku, ".. pasti perempuan gak bisa..", tetapi malah itu menjadi tantangan buatku.
Tetapi begitu semakin dewasa, ketegangan bahwa perempuan dewasa harus mengikuti norma semakin ketat, dan sampai sekarang ketegangan itu masih terasa.
 Perempuan harus KAWIN! Norma itu melekat kuat di masyarakat, dan itu konflik spesifik pada perempuan usia 30-an.
Aku selalu ingin menjadi diriku sendiri, aku sebenarnya tidak ingin membuat lingkunganku resah, tetapi aku juga harus selalu jujur pada diriku sendiri. Apa pun resikonya!
 Dan aku tahu ketika memutuskan ikatan dengan norma kultur itu, maka aku akan sendirian. Dan itu berat!
Lalu aku masuk seni rupa, meskipun orang tua ku tidak setuju, tetapi itu sudah menjadi jalanku. 
Di akademi seni rupa pun, aku merasakan kultur patriarkhis, dosennya mayoritas laki-laki. Aku pikir ini adalah cermin dari masyarakatku.
Nah, itu adalah sedikit penggalan dari cerita Arahmaiani. Nanti gw akan lanjutkan ceritanya, sekarang biarkan gw jelaskan sedikit analisa dari gw soalnya ntar ada aja neh yang protes kalau gw gak memberikan analisa.

Pertama-tama, gw akan menyatakan bahwa statement mengenai wanita harus menikah adalah keharusan. Kenapa gw rasa demikian? mungkin disini penulis ingin menunjukkan eksistensinya bahwa wanita bisa melakukan sesuatu tanpa harus didampingi pria (kisah Arahmaiani lanjutannya). Tapi sebenarnya wanita memang harus dilindungi pria karena memang wanita lebih pria. Mungkin zaman sekarang, wanita bisa menghidupi keluarganya dan bekerja menjadi wanita karir dan memiliki penghasilan yang lebih besar, tapi itu ada batasnya. Puncak kejayaan wanita karir adalah 35 tahun, setelah itu produktivitasnya akan terus menurun (fakta di lapangan, gw pernah baca di koran ama buku cuma lupa kapan). Sebaliknya wanita pada usia 40-an mencapai produktivitas tertingginya (kalau bokap lo umur 40-an, pasti dia lagi jaya-jayanya). 

Nah, balik lagi ke masalah awal mengenai wanita harus menikah karena memang mereka sebagai pihak yang lemah harus dilindungi oleh pria. Jadi tidak ada alasan untuk wanita tidak menikah kecuali dia ingin menjadi pelayan Tuhan (suster).  Mungkin ada yang berpikir gw adalah seorang fundamentalis berpikir seperti itu, tapi ya balik lagi, gw akan mau ngelihat anak perempuan gw ga ada yang bisa melindungi ketika gw udah ga ada atau ga mampu lagi melindungi. Ya mungkin seperti itulah jalan pemikiran gw yang sederhana. 

Hmm. apalagi ya? mungkin sekarang begitu dulu, nanti kan ada bagian 2 nya hehe. Tenang aja ada konklusinya kok, mikir kritis itu agak bikin otak panas lo hehe... :D

1 comments:

Sarah Evangelista said...

Part duanya gak ada tuuuh.