Friday, April 18, 2014

Sang Revolusioner


Akhir-akhir ini gw lagi seneng banget baca komik yang satu ini. Ya gambar di atas adalah salah satu tokoh terkenal di komik One Piece, namanya Sabo. Dia adalah orang no 2 dalam tentara revolusi setelah Dragon. Komik One Piece menurut gw cukup keren karena bercerita tentang polemik politik yang ada di kehidupan nyata khususnya Indonesia. Dimana ada orang-orang yang berada dalam pemerintahan namun menjadi pelindung dalam dunia gelap. Yah, tapi bukan itu yang pengen gw ceritain disini hehe...

Tanggal 5 April kemarin gw berulangtahun yang ke 23 (udah tua ya gw). Ya gak ada yang istimewa dari ulangtahun ini, bahkan banyak temen-temen gw yang gatw dan kemudian ngucapin belakangan. Maklum gak ada orang yang ngucapin di social media jadi gak ada yang tahu gitu. Ya gw emang sengaja diam-diam aja. Soalnya ulangtahun yang kali ini udah agak berbeda dengan yang dulu-dulu. Kenapa demikian? Karena gw udah gak dapat kado lagi dari om dan tante gw, udah gak ada lagi yang ngasi uang. Malah sebaliknya gw harus mulai mentraktir. Itulah alasan kenapa gw menyembunyikan ulangtahun gw, cukup yang bener-bener ingat sama ulangtahun gw yang nyelamatin gw. Tapi semua sudah berlalu, beberapa hal telah menyita perhatian gw. Berikut sedikit ceritanya.

Malam sebelum ulangtahun, gw sama beberapa temen gw sempet jalan-jalan bareng ke kemang buat nyari cabe-cabean (bullshit hahaha). Karena udah lama gak ketemu, kita sempat ngobrol panjang. Lebih tepatnya seh kita ngomongin orang. Cerita tentang kehidupan orang ini bisa dibaca lebih lanjut disini . Nah beberapa pembicaraan mendadak menjadi melow begitu karena seorang teman gw mulai bernostalgila, sebut saja nama teman gw ini adalah Jawir. Dia bercerita mengenai kalau belum lama ini dia magang dengan seorang teman gw. Nama orangnya sebut saja Arda. Mereka bekerja magang di tribunnews kalau gak salah. Dulu mereka sempat balik bareng dan sempat kenalan. Setelah itu lambat laun, mereka berdua menjadi teman dekat dan suka kumpul-kumpul bareng termasuk mabok. Tiba-tiba si Arda mulai berbicara mengenai isi hatinya. Dia bilang kalau tahun 2013 adalah tahun yang cukup down dan cukup menguras emosi jiwa dan raga? Kenapa dia bisa bilang demikian? Karena itu jamannya skripsi laknat. 

Skripsi memang merupakan momok bagi semua mahasiswa tingkat akhir. Bahkan ada yang dulu statusnya Mahasiswa menjadi Mahasisa. Kenapa bisa demikian? Karena gak lulus-lulus bro, makanya jadi mahasisa lah tersisa. Nah karena skrispi itulah kami semua mulai meradang. Arda sempet cerita kalau dia hampir sebulan penuh tidak ke kantor. Tapi hasil jerih payah kami semua akhirnya terbayar dengan lulusnya dengan nilai yang cukup memuaskan yakni A. Selain itu, kami semua akhirnya bisa wisudaan bareng. Kalau dulu sempet ada yang bilang ke gw (kaka kelas waktu sma), dia bilang "Kalau MOS Bareng, maka lulusnya bareng". Perumpamaan itu kurang berarti waktu kuliah. Karena kalau uda kuliah, maka perumpamaannya jadi "Ospek Bareng, Skripsi Bareng, Lulus Bareng (Kalau semuanya bareng2 bener)". Yah begitulah pokoknya.. Setelah lulus pun temen gw sempet bilang kalau tahun 2014 ini dia sama sekali gak ada niatan untuk nabung. Dia pengen jalan-jalan terus.. Konsep inilah yang menjadikan revolusi gw waktu itu.

Beberapa dari kami sempat bicara bahwa, ada masa diantara lulus kuliah dan kerja yang dipakai oleh beberapa orang untuk jalan-jalan. Tetapi ada juga yang begitu lulus pada kerja, kayak kami pada umumnya. Si Arda pun memutuskan untuk bersenang-senang sampai umur 25 tahun. Menurutnya setelah umur 25 tahun itulah, seorang laki-laki memutuskan hal-hal yang lebih mengarah ke masa depan seperti menyiapkan biaya pernikahan, biaya rumah dan masih banyak tetek bengek rumah tangga yang lainnya. Saat berbicara seperti itu, Jawir pun ikut nimbrung dan mulai melakukan hitung-hitungan yang menurut gw agak menusuk hati (lebay). Dia bilang, kalau kita ngumpulin gaji 1 juta aja tiap bulan, paling banter diumur yang ke 30, kita cuma baru punya uang 110 Juta. Shit banget kan?

Yah memang menurut gw di usia yang masih muda ini (udah tua seh sebenarnya), sudah seharusnya gw memikirkan hal-hal yang jauh ke depan. Tetapi di sisi lain temen-temen gw selalu mengingatkan bahwa hidup harus dinikmati. Mengapa demikian? Karena waktu terus berjalan, dan tidak mungkin kembali lagi. Selain itu tanggungjawab yang dipikul semakin berat terlebih para kaum pria. Bayangkan saja ketika nanti sudah umur 26 tahun trus pacar lo juga seumuran. Tiba-tiba dia ngajakin ngomong serius tapi santai kayak begini : "Ceritanya lo lagi makan, trus cewek lo ngomong begini : Sayang, tadi pagi mama ngomong kalau dia pengen segera nimang cucu. Nah lo khan? " Bingung gak loh dapat pertanyaan begitu? Makanya sebelum kata-kata itu keluar dari mulut cewek mending banyakin seneng-seneng. Let it go aja lah, namun tetap selektif.

Oh iya, mengenai masalah selektif. Ini masalah yang menurut gw sering dibicarain temen-temen gw. Katanya kalau cari pacar jangan terlalu selektif, nikmati aja dulu. Yah elah bro, kalau begitu bukan cari pacar namanya, cuma cari temen yang buat diajak seneng2. Sori neh, gw seh bukan tipe yang pacaran kalau gak pantes terus tinggalin. Selain itu gak asik buat financial, kayaknya gak seru aja. Makanya gw cari yang selektif, biarin lama dapetnya. Toh ujung-ujungnya pasti dapet juga. Gw kan cowo, makin tua makin macho gua.

Dari perkumpulan bersama temen-temen gw itu maka gw mulai terbuka mengenai bahwa hidup ini harus bersenang-senang. Hidup cuma sekali, umur terus bertambah, tanggungjawab pun juga demikian, kemarin digendong sekarang menggendong. Kemarin dikasih uang, sekarang ngasih uang. Kemarin dipanggil dede, sekarang manggil dede. Dulu mama minta pulsa, sekarang mama minta cucu (buat cewe2 khususnya). Yah begitulah hidup, sebelum waktunya habis alangkah baiknya jalan-jalan dan bersenang-senang terlebih dahulu melihat indahnya dunia. Kalau liat yang busuknya, anggap aja jadi pelajaran. Kalau belum dapet pasangan, ya udah tunggu aja, tar juga dapet. Masih suka baca komik? Baca aja, karena kadang pelajaran hidup bisa datang darimana saja, termasuk komik.

Untuk tulisan kali ini, gw akan sedikit menutup dengan sepatah doa dari Fransiskus Asisi. Maklum ini kan Jumat Agung.

"Ya Tuhan, Jika terjadi sebuah kebimbangan, maka jadikanlah aku pemberi Kepastian".

Selamat malam, semoga tulisan ini bisa menjadi revolusi dalam hidup para pembaca sekalian. :D